
Damunews | Meulaboh, 25 Agustus 2026 – Suasana penuh khidmat menyelimuti halaman Dayah Darul Mutaallimin Meulaboh pada malam Selasa, 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah, Senin malam (24/8/2026). Para santri dan guru berkumpul dalam rangka memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW melalui zikir dan selawat bersama.
Kegiatan yang dimulai setelah salat Isya, sekitar pukul 20.30 WIB, tersebut diikuti oleh seluruh santri dan guru Dayah Darul Mutaallimin. Lantunan zikir dan selawat menggema di halaman dayah, menghadirkan suasana religius sekaligus menjadi momentum untuk kembali mengingat perjuangan dan keteladanan Rasulullah SAW.
Peringatan Maulid tahun ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Zikir bersama menjadi bagian dari upaya menanamkan kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus mengajak para santri untuk menerjemahkan kecintaan tersebut melalui akhlak dan perilaku sehari-hari.

Dari Bayi di Padang Pasir hingga Mengubah Perjalanan Sejarah
Usai zikir bersama, pembina Dayah Darul Mutaallimin, Abi Syamsuar, menyampaikan ceramah Maulid kepada para santri dan guru yang hadir.
Dalam ceramahnya, Abi mengangkat tema tentang perjalanan Rasulullah SAW sebagai seorang bayi yang lahir di tengah padang pasir yang tandus, namun kemudian tumbuh menjadi Nabi dan Rasul yang risalahnya mengubah perjalanan sejarah umat manusia.
Ia mengingatkan bahwa manusia tidak harus menjadi seperti Rasulullah SAW—karena beliau adalah Nabi dan Rasul Allah—tetapi setiap Muslim dapat mengambil cahaya keteladanan dari kehidupan beliau.
“Tidak semua orang bisa menjadi seperti Muhammad, meskipun semua orang ingin seperti beliau. Kita tidak mungkin menjadi Muhammad, sebab Muhammad adalah Nabi dan Rasul Allah. Namun kita dapat mengambil sebagian dari keteladanan beliau,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam materi ceramah tersebut.
Keteladanan itu, kata Abi, dapat dimulai dari hal-hal sederhana: kejujuran, kesabaran, kasih sayang, keberanian, serta keteguhan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Nilai-nilai tersebut merupakan bagian penting dari konsep uswatun hasanah, yakni Rasulullah SAW sebagai teladan terbaik bagi umat manusia.
Maulid Bukan Sekadar Mengenang Kelahiran
Dalam ceramahnya, Abi juga mengajak para santri untuk memahami bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak cukup hanya diwujudkan melalui kata-kata dan selawat.
Kerinduan kepada Nabi, menurut pesan ceramah tersebut, harus terlihat dalam akhlak dan perilaku. Ketika menghadapi persoalan, seorang Muslim diajak untuk belajar dari kesabaran Rasulullah SAW; ketika mendapatkan tantangan, tidak mudah menyerah; dan ketika menghadapi penderitaan, tetap berdoa serta berharap kepada Allah SWT.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan bagi para santri yang sedang menempuh pendidikan dan membangun karakter di lingkungan dayah.
“Cinta kepada Rasulullah adalah tentang seberapa jauh kita berusaha mengikuti jalannya,” menjadi salah satu pesan penting dalam materi ceramah Maulid yang disampaikan Abi.

Mengambil Pelajaran dari Perjuangan Rasulullah
Abi juga mengingatkan para santri agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi hambatan, tantangan, maupun kegagalan.
Perjalanan dakwah Rasulullah SAW, yang menghadapi penolakan, hinaan dan berbagai tantangan, menjadi gambaran bahwa perjuangan membutuhkan kesabaran dan keteguhan. Rasulullah SAW tetap melanjutkan dakwah dan meletakkan kepercayaan kepada Allah SWT.
Pesan tersebut kemudian diarahkan kepada kehidupan para santri: pendidikan, perjuangan menuntut ilmu dan proses memperbaiki diri membutuhkan ketekunan. Kesulitan yang muncul tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti melangkah.
Sebelum Waktu Berakhir, Mari Berbenah
Salah satu bagian yang menjadi renungan dalam ceramah adalah tentang perjalanan hidup manusia yang pada akhirnya akan berakhir.
Abi mengingatkan bahwa sebelum kehidupan berakhir, manusia masih memiliki kesempatan untuk berbuat baik dan memperbaiki diri. Harta, jabatan, gelar dan berbagai kepemilikan duniawi pada akhirnya akan ditinggalkan; yang dibawa adalah amal perbuatan.
Karena itu, momentum Maulid diarahkan bukan hanya untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi kesempatan untuk melakukan introspeksi: sejauh mana akhlak Rasulullah SAW telah tercermin dalam kehidupan setiap Muslim.
Selawat untuk Bayi dari Padang Pasir
Menutup ceramahnya, Abi mengajak para santri untuk memulai keteladanan Rasulullah SAW dari perkara-perkara sederhana: jujur ketika berhadapan dengan orang lain, sabar ketika diuji, memaafkan ketika disakiti, membantu mereka yang mengalami kesulitan, memperbanyak selawat, serta berpegang kepada Al-Qur’an dan sunnah.
Peringatan Maulid di Dayah Darul Mutaallimin Meulaboh pun menjadi ruang bagi seluruh keluarga besar dayah untuk kembali memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Lebih dari empat belas abad setelah kelahirannya, nama Muhammad SAW tetap hidup dalam hati umat Islam—disebut dengan cinta, kerinduan dan selawat.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad.
Selawat untuk bayi padang pasir.
Informasi lebih lanjut:
Muhammad
Humas Dayah Darul Mutaallimin
Email: humas@darulmutaallimin.ponpes.id
Whatsapp: +62 85121552190

